BANDAR LAMPUNG – Limbah ampas kopi yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah mulai dilirik sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Universitas Lampung (Unila) bersama RESAKU ILS mengembangkan inovasi Bio-Filter Hibrid COZEA berbasis limbah kopi untuk membantu pengelolaan limbah cair usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tahu di Kota Bandar Lampung.
Program bertajuk “Implementasi Bio-Filter Hibrid COZEA Berbasis Limbah Kopi untuk Restorasi Sanitasi UMKM Tahu di Bandar Lampung” tersebut diperkenalkan melalui kegiatan bertema “Mengenal dan Mempraktikkan Media Filter Berbasis Limbah Ampas Kopi untuk Mengelola Limbah Cair”, yang berlangsung di Kantor Inisiatif Lampung Sehat (ILS), Bandar Lampung, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan ini dihadiri Founder RESAKU ILS Dwi Setyorini, Riska Maya Sari, Rosalia Dwi Werena, Ridho Ulya, Miftahul Djanah, Hasrul Anwar, anggota tim pengabdian, mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi (MIE) Unila, ILS Milenial, Kader ILS Bandar Lampung, serta mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Lampung.
Program yang diketuai Rizka Mayasari tersebut menyasar UMKM tahu skala rumah tangga. Selama ini, limbah cair dari proses produksi tahu menjadi salah satu persoalan lingkungan karena mengandung bahan organik cukup tinggi dan berpotensi mengganggu sanitasi apabila tidak dikelola dengan baik.
Melalui Bio-Filter Hibrid COZEA, tim mencoba menghadirkan solusi teknologi tepat guna dengan memanfaatkan limbah ampas kopi sebagai material adsorben untuk membantu proses pengolahan air limbah.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang kembali memiliki manfaat.
Founder RESAKU ILS, Dwi Setyorini, menyatakan pihaknya memberikan dukungan terhadap program tersebut karena dinilai mampu mempertemukan aspek lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami di RESAKU ILS berkomitmen mendorong UMKM naik kelas melalui solusi ekonomi sirkular. Bio-Filter COZEA ini contoh nyata bagaimana limbah kopi bisa dimanfaatkan untuk menjaga sanitasi dan keberlanjutan usaha UMKM tahu,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tidak hanya berfokus pada pemasangan alat. Tim melakukan survei awal, instalasi bio-filter, pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan kepada mitra UMKM, serta memberikan edukasi mengenai sanitasi kepada masyarakat dan kader Posyandu.
Sementara RESAKU ILS mengambil peran dalam koordinasi, fasilitasi dengan masyarakat, sekaligus memperkuat penerapan model ekonomi sirkular di lokasi kegiatan.
Program tersebut menargetkan sejumlah keluaran, di antaranya terpasangnya satu unit Bio-Filter Hibrid COZEA, meningkatnya kemampuan mitra dalam mengoperasikan dan merawat alat secara mandiri, tersedianya standar operasional prosedur (SOP), serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah.
Dengan konsep tersebut, UMKM tahu diharapkan memiliki alternatif pengolahan limbah yang lebih sederhana, terjangkau, dan ramah lingkungan. Di sisi lain, pemanfaatan ampas kopi juga membuka ruang bagi pengembangan ekosistem ekonomi sirkular berbasis sumber daya lokal.
Ardiansyah, Sobat Sehat, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia mengaku bangga dapat menjadi bagian dari program yang menurutnya menawarkan solusi sederhana dengan dampak yang lebih luas terhadap lingkungan.
“Solusi kecil dari limbah kopi ternyata bisa berdampak besar untuk sanitasi masyarakat sekitar. Harapannya semakin banyak kegiatan-kegiatan seperti ini agar masyarakat semakin sadar dan paham tentang limbah di lingkungannya yang ternyata bisa dimanfaatkan,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Wulan Kurnia Sari dari Magister Ilmu Ekonomi. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru, khususnya mengenai pemanfaatan limbah kopi.
“Senang sekali mendapat kesempatan dan menjadi bagian dari kegiatan ini. Banyak sekali ilmu baru yang didapatkan, terutama terkait limbah kopi. Harapannya, program ini dapat diakses lebih banyak oleh masyarakat dan bisa menjadi program berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, Bio-Filter Hibrid COZEA diharapkan tidak berhenti pada satu lokasi. Teknologi tersebut diharapkan dapat direplikasi ke berbagai UMKM lainnya sehingga pemanfaatan limbah berbasis sumber daya lokal dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat dalam menerapkan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pengabdian yang menghasilkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan dan ekonomi masyarakat.







